Landasan Teoritis Multimedia Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran, media memiliki kontribusi dalam
meningkatkan mutu dan kualitas pengajaran. Kehadiran media tidak saja membantu
pengajar dalam menyampaikan materi ajarnya, tetapi memberikan nilai tambah pada
kegiatan pembelajaran.Penggunaan media pembelajaran dapat membantu meningkatkan
pemahaman dan daya serap siswa terhadap materi pelajaran yang dipelajari. Maka
dapat diambil kesimpulan manfaat dari penggunaan media pembelajaran di dalam proses belajar mengajar dapat mengarahkan perhatian siswa sehingga menimbulkan motivasi
untuk belajar dan materi yang diajarkan akan lebih jelas, cepat dipahami
sehingga dapat meningkatkan prestasi siswa.
Levie dan Levie menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar
lebih baik untuk tugas- tugas seperti mengingat, mengenali, dan
menghubungkan-hubungkan fakta dan konsep. Stimulus verbal memberi hasil belajar
yang lebih apabila pembelajaran itu melibatkan ingatan berurut-urutan. Oleh
sebab itu belajar dengan menggunakan indera ganda yaitu pandang dan dengar akan
memberi keuntungan bagi siswa. Siswa akan belajar lebih banyak materi yang
disajikan dengan stimulus pandang dan dengar.
Gambaran diatas sejalan dengan gambaran yang dibuat oleh Edgar Dale. Dale
memperkirakan bahwa pemerolehan hasil belajar melalui indera pandang sekitar
75%, melalui indera dengar sekitar 13%, dan melalui indera lainnya sekitar 12%.
Para ahli menyimpulkan bahwa kurang lebih 90% dari hasil belajar melalui indera
pandang, 5% diperoleh melalui indera dengar , dan 5% lagi dari indera lainnya.
Hasil belajar seseorang diperoleh mulai dari pengalaman langsung (konkret),
kenyataan yang ada di lingkungan kehidupan seseorang, kemudian melalui benda
tiruan, sampai kepada lambang verbal (abstrak). Semakin keatas dipuncak kerucut
semakin abstrak media penyampaian pesan itu. Pengalaman langsung akan
memberikan kesan paling utuh dan paling bermakna mengenai informasi dan gagasan
yang terkandung dalam pengalaman itu. Oleh karena ia melibatkan indera
penglihatan, pendengaran, perasaan, penciuman, dan peraba.
Ada beberapa tinjauan tentang landasan
penggunaan media pembelajaran, antara lain landasan filosofis, psikologis,
teknologis, dan empiris.
1. Landasan
filosofis
Menurut Daryanto (2010:12) memaparkan
landasan filosofis penggunaan media pembelajaran yaitu bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media
hasil teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang
kurang manusiawi. Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan
terjadi dehumanisasi. Bukankah dengan adanya berbagai media pembelajaran justru
siswa dapat mempunyai banyak pilihan untuk digunakan media yang sesuai dengan
karakteristik pribadinya? Dengan kata lain siswa dihargai harkat kemanusiaanya
diberi kebebasan untuk menentukan pilhan, baik cara maupun alat belajar sesuai
dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak berarti
dehumanisasi. Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut tidak perlu muncul, yang
penting bagaimana pandangan guru terhadap siswa dalam proses pembelajaran. Jika
guru menganggap siswa sebagai anak manusia yang memiliki kepribadian, harga
diri, motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda dengan yang lain,maka
baik menggunaka media hasil teknologi baru atau tidak, proses pembelajaran yang
dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan humanis.
2.
Landasan psikologis.
Dengan memperhatikan kompleks dan uniknya
proses belajar, maka ketepatan pemilihan media dan metode pembelajaran akan
sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Di samping itu, persepsi siswa
juga sangat mempengaruhi hasil belajar. Oleh sebab itu, dalam pemilihan media,
di samping memperhatikan kompleksitas dan keunikan proses belajar, memahami
makna persepsi serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penjelasan
persepsi hendaknya diupayakan secara optimal agar proses pembelajaran dapat
berlangsung secara efektif. Untuk maksud tersebut, perlu:
(1) diadakan pemilihan media yang tepat sehingga dapat
menarik perhatian siswa serta memberikan kejelasan obyek yang diamatinya,
(2) bahan pembelajaran yang akan diajarkan disesuaikan dengan
pengalaman siswa.
Kajian psikologi menyatakan bahwa anak akan lebih mudah
mempelajari hal yang konkrit ketimbang yang abstrak.
Ada beberapa
pendapat dari beberapa para ahli landasan psikologis dalam penggunaan media
pembelajaran, diantaranya:
a. Teori
Perkembangan Kognitif Jean Peaget
Jean
Peaget, seorang psikolgis dan pendidik yang terkenal karena teori pembelajaran
berdasarkan tahapan-tahapan yang berbeda-beda dalam perkembangan
intelegensi anak. Kognitif adalah salah satu ranah dalam taksonomi pendidikan.
Secara umum kognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari
tahapan antara lain pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisa, sintesa, dan
evaluasi. Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan
kemampuan rasional (akal).
b. Kerucut
Pengalaman Edgar Dale
Kajian psikologis mengatakan bahwa
anak akan lebih mudah mempelajari hal yang konkret ketimbang yang abstrak.
Berkaitan dengan konkret-abstrak dan kaitannya dengan penggunaan media
pembelajaran, ada beberapa pendapat di antaranya:
o bahwa dalam proses pembelajaran
hendaknya menggunakan urutan dari belajar dengan gambaran atau film
( iconic representation of experiment) kemudian ke belajar dengan
simbol, yaitu menggunakan kata-kata (symbolic representation ).
Hal ini juga berlaku tidak hanya untuk anak, tetapi juga untuk orang dewasa.
o bahwa sebenarnya nilai dari media
terletak pada tingkat realistiknya dalam proses penanaman konsep, ia membuat
jenjang berbagai jenis media mulai yang paling nyata ke yang paling abstrak.
o membuat jenjang konkrit-abstrak
dengan dimulai dari siswa yang berpartisipasi dalam pengalaman nyata, kemudian
menuju siswa sebagai pengamat kejadian nyata, dilanjutkan ke siswa sebagai
pengamat terhadap kejadian yang disajikan dengan media, dan terakhir siswa
sebagai pengamat kejadian yang disajikan dengan symbol. Jenjang konkrit-abstrak
ini ditunjukkan dengan bagan dalam bentuk kerucut pengalaman (cone of
experiment).
3. Landasan
teknologis
Teknologi pembelajaran adalah teori dan
praktek perancangan, pengembangan, penerapan, pengelolaan, dan penilaian proses
dan sumber belajar. Jadi, teknologi pembelajaran merupakan proses kompleks dan
terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk
menganalisis masalah, mencari cara pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan
mengelola pemecahan masalah-masalah dalam situasi di mana kegiatan belajar itu
mempunyai tujuan dan terkontrol. Dalam teknologi pembelajaran, pemecahan
masalah dilakukan dalam bentuk: kesatuan komponen-komponen sistem pembelajaran
yang telah disusun dalam fungsi desain atau seleksi, dan dalam pemanfaatan
serta dikombinasikan sehingga menjadi sistem pembelajaran yang lengkap.
Komponen-komponen ini termasuk pesan, orang, bahan, media, peralatan, teknik,
dan latar.
4. Landasan
empiris
Temuan-temuan penelitian menunjukkan bahwa
terdapat interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan karakteristik
belajar siswa dalam menentukan hasil belajar siswa. Artinya, siswa akan
mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media
yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya belajarnya. Siswa yang memiliki
tipe belajar visual akan lebih memperoleh keuntungan bila pembelajaran
menggunakan media visual, seperti gambar, diagram, video, atau film. Sementara
siswa yang memiliki tipe belajar auditif, akan lebih suka belajar dengan media
audio, seperti radio, rekaman suara, atau ceramah guru. Akan lebih tepat dan
menguntungkan siswa dari kedua tipe belajar tersebut jika menggunakan media
audio-visual. Berdasarkan landasan rasional empiris tersebut, maka pemilihan
media pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru, tetapi harus
mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik pebelajar, karakteristik
materi pelajaran, dan karakteristik media itu sendiri.
Agar
penggunaan media pembelajaran berlangsung efektif, guru sebaiknya memahami
gaya-gaya belajar siswa. Gaya belajar adalah karakteristik kognitif, afektif
dan perilaku psikologis seorang siswa tentang bagaimana dia memahami sesuatu,
berinteraksi dan merespon lingkungan belajarnya, yang bersifat unik dan relatif
stabil. Adapun gaya-gaya belajar siswa menurut para ahli sebagai berikut:
a. Gaya belajar menurut
David Kolb
David
Kolb mengklasifikasikan gaya belajar siswa ke dalam empat kecenderungan utama
yaitu:
o Concrete
Experience (CE)
o Abstract
conceptualization (AC)
o Reflective
observation (RO)
o Active
experimentation (AE)
b. Gaya Belajar Visual,
Auditori, dan Kinestik
Secara umum
ada tiga macam gaya belajar, yaitu:
o Gaya belajar visual, gaya belajar
ini menitikberatkan melalui apa yang dilihat. Bagi siswa yang bergaya belajar
visual, yang memegang peranan penting adalah mata atau penglihatan (visual).
Gaya belajar yang bersifat ekternal, ia menggunakan materi atau media yang bisa
dilihat. Materi atau media yang digunakannya berupa buku, poster, majalah dan
lain-lain. Sedangkan gaya belajar yang bersifat internal adalah menggunakan
imajinasi sebagai sumber informasi. Ciri-ciri belajar visual adalah mengingat
dengan mudah apa yang dilihat, mempunyai masalah untuk dengan intruksi
lisan,pembaca cepat dan tekun dan lain-lain.
o Gaya Belajar Auditori, Gaya belajar
ini cendrung menggunakan pendengaran atau audoi sebagai sarana dalam melakukan
pembelajaran. Gaya belajar auditori yang bersifat ekternal adalah
dengan mengeluarkan suara. Sedangkan gaya belajar yang bersifat internal adalah
memerlukan suasana yang tenang atau hening sebelum mempelajari sesuatu.
Ciri-ciri gaya belajar auditorial adalah bicara pada diri sendiri pada saat
bekerja, sulit menulis tapi mudah bercerita dan lain-lain.
o Gaya Belajar Kinestik, Orang yang
bergaya belajar kinestik belajar melalui gerakan-gerakan sebagai sarana
memasukkan informasi ke dalam otaknya. Gaya belajar jenis ini yang bersifat
ekternal adalah melibatkan kegiatan fisik, membuat model, memainkan peran,
berjalan dan sebagainya. Sedangkan gaya belajar yang bersifat internal lebih
menekankan pada kejelasan makna dan tujuan sebelum mempelajari sesuatu hal.
Ciri-ciri gaya belajar ini adalah berbicara dengan perlahan, menanggapi
perhatian fisik, menyentuh orang untuk mendapat perhatian dan lain-lain.
Permasalahan
1. Para ahli menyimpulkan bahwa kurang lebih 90% dari hasil belajar melalui indera penglihatan (pandangan), lalu media apa yang baik digunakan untuk siswa yang mengalami kekurangan pada indra penglihatannya?
2. Bagaimana tinjauan tentang landasan penggunaan media pembelajaran pada landasan teknologis untuk siswa di perdesaan. Apakah landasan ini dapat diimplementasikan?
3. Berdasarkan landasan rasional empiris tersebut, maka pemilihan media pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik pebelajar, karakteristik materi pelajaran, dan karakteristik media itu sendiri. Namun secara konkret guru lebih mempertimbangkan segala sesuatu berdasarkan kemampuan yang dimiliki. Bagaimanakah penyelesaian yang baik untuk kasus ini?
1. Para ahli menyimpulkan bahwa kurang lebih 90% dari hasil belajar melalui indera penglihatan (pandangan), lalu media apa yang baik digunakan untuk siswa yang mengalami kekurangan pada indra penglihatannya?
2. Bagaimana tinjauan tentang landasan penggunaan media pembelajaran pada landasan teknologis untuk siswa di perdesaan. Apakah landasan ini dapat diimplementasikan?
3. Berdasarkan landasan rasional empiris tersebut, maka pemilihan media pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik pebelajar, karakteristik materi pelajaran, dan karakteristik media itu sendiri. Namun secara konkret guru lebih mempertimbangkan segala sesuatu berdasarkan kemampuan yang dimiliki. Bagaimanakah penyelesaian yang baik untuk kasus ini?



Saya yulinda (A1C116027) akan menjawab pertanyaan yang pertama, siswa yang mengalami kekurangan pada indera penghilatan oleh karena itu prinsip yang harus diperhatikan dalam memberikan pengajaran kepada individu tersebut adalah media yang digunakan harus bersifat taktual dan bersuara, contohnya adalah penggunaan tulisan braille, gambar timbul, benda model dan benda nyata. sedangkan media yang bersuara adalah tape recorder dan peranti lunak JAWS. Untuk membantu beraktivitas di sekolah luar biasa mereka belajar mengenai Orientasi dan Mobilitas.
BalasHapusBaik. saya menerima ulasan saudari. Namun apakah hanya dengan mengandalkan prinsip secara taktual dan bersuara mampu memberikan transfer pengetahuan yang bersifat permanen bagi siswa yang mengalami kekurangan indera penglihatan. bisakah saudari menambahkan jawaban sebelumnya? :)
Hapussaya sependapat dengan yulinda bahwasannya siswa yang mengalami kekurangan pada panda indera penglihatan biasanya media yang digunakan adalah media audio dan tulisan atau bentuk gambar yang timbul sehingga siswa itu bisa mamahami suatu informasi yang diberikan.
Hapussaya ingin mencoba menanggapi permasalah pertama saudari menurut saya sejatinya sebuah media dibuat untuk membantu atau dengan kata lain mempermudah kita dalam belajar, jika memang sesorang siswa memiliki kekurangan dalam penglihatanyya kita lihat pasti ada kelebihan di indera yang lain misalnya pendengaran, jadi kita bisa merubah suatu materi kedalam bentuk audio bukan hanya teks atau gamabr saja sehingga dia tidak ketinggalan oleh temannya.
BalasHapussaya setuju dengan pendapat munika, dengan audio ia bisa mengerti lebih, meskipun penglihatannya sedikit tergangu, tetapi jika hanya sedikit tergangu bisa menggunakan media dengan contras warna yang lebih cerah
HapusMungkin disini maksud permasalahan saudari rahmi tidak hanya untuk anak pada umumnya namun juga untuk konteks anak istimewa. Untuk mengatasi permasalahan yg pertama yaitu dengan media yang memberikan unsur audio seprti yg di sebutkan sasa dan munika. Namun juga dikombinasikan dengan yg memfungsionalkan indra perabanya serta mengembangkan kemampuan belajar kinestiknya. Sehingga walau terganggu secara oenglihatan, bukan berarti media tak dapat menjangkau permasalahan ini. Itulah alasan dibuatnya media pembelajaran.
HapusBaiklah saya akan menjawab no 2
BalasHapusKurikulum yang dapat meracang dan diimplementasikan dengan memperhatikan dua dimensi yaitu dimensi vertikal dan horisontal.
1. Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah meliputi keterkaitan dan kesinambungan antar tingkatan persekolahan dan keterkaitan dengan kehidupan peserta didik di masa depan.
2. Dimensi horisontal dari kurikulum sekolah yaitu katerkaitan antara pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman di luar sekolah.
3. Asas Kemandirian dalam Belajar Dalam kegiatan belajar mengajar, sedini mungkin dikembangkan kemandirian dalam belajar itu dengan menghindari campur tangan guru, namun guru selalu siap untuk ulur tangan bila diperlukan.
Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalam peran utama sebagai fasilitator dan motifator. Salah satu pendekatan yang memberikan peluang dalam melatih kemandirian belajar peserta didik adalah sitem CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif).
Saya akan menjawab permasalahan Anda yang ketiga dimana Hal semacam itu perlu diminimalisir karena baik dari tujuan,jenus materi serta keahlian guru dalam membuat media pembelajaran harus seimbang satu Sama lain tidak boleh ada perbedaan jadi cara meminimalisir dengan mengadakan evaluasi baik dari pengajar sendiri atau pihak yang berwenang lalu dilakukan revisi agar terjadi keseimbangan serta tercapai keberhasilan pembelajaran
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan kedua. Menurut saya, landasan teknologis bisa diimplementasikan di pedesaan karena di zaman yang modern saat
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan kedua. Menurut saya, landasan teknologis bisa diimplementasikan di pedesaan karena di zaman yang modern saat ini penggunaan handphone cukup mudah ditemui. Seperti e-learning yang bisa dimanfaatkan melalui handphone, landasan teknologis bisa diimplementasikan.
HapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan kedua. Menurut saya, landasan teknologis bisa diimplementasikan di pedesaan karena di zaman yang modern saat ini penggunaan handphone cukup mudah ditemui. Seperti e-learning yang bisa dimanfaatkan melalui handphone, landasan teknologis bisa diimplementasikan.
HapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan yang pertama, menurut saya media yang baik digunakan untuk siswa yang mengalami kekurangan pada indra penglihatan adalah media audio. Media audio berfungsi untuk menyalurkan pesan audio dari sumber pesan ke penerima pesan. Media audio berkaitan erat dengan indra pendengaran.contoh media yang dapat dikelompokkan dalam media audio diantarany : radio, tape recorder, telepon, laboratorium bahasa, dll.
BalasHapusSemoga dapat membantu permasalahan yang anda alami.
untuk anak yg mempunyai kekurangan dalam penglihatan, media audio salah satu jalan keluar yang patut di gunakan. Mereka cukup peka untuk memahami apa yg di ajarkan. Kebanyakan dari mereka lebih fokus akan suara
Hapus